Sabtu, 11 Juni 2011

Selamat Jalan Anak Kufur

Semalam (11 Juni 2011), saya menyempatkan diri datang ke Salihara untuk menyaksikan sebuah pertunjukkan teater realis oleh Teater Ciliwung yang membawakan naskah berjudul "Selamat Jalan Anak Kufur", karya alm. Utuy Tatang Sontani.

"Selamat Jalan Anak Kufur" mengisahkan tentang ironi kehidupan para pelacur di sebuah lokalisasi di Pantai Utara (Pantura). Sebutlah Titi, seorang pelacur primadona di lokalisasi tersebut yang memiliki prinsip dalam dirinya untuk memilih pria mana yang mau ditidurinya, bukan sekedar memiliki banyak uang saja. Namun prinsip yang dipilih Titi seolah menjadi pergolakan batin manakala si Ibu penjaga warung yang tak lain adalah germo lokalisasi menentang prinsipnya, menurut si Ibu menjadi pelacur adalah sudah kodratnya untuk melayani siapa saja asalkan memiliki uang untuk membayar, tanpa cinta dan tanpa perasaan. Jadi jika Titi keluar dari kodratnya itu, maka Titi sudah menjadi kufur terhadap dirinya sendiri, dan lingkungannya.

Cerita semakin kompleks ketika hadir Rais sang tukang becak yang mencintai Titi, namun apa daya Rais tidak mampu menjangkau Titi karena selalu dihalangi oleh si Ibu germo yang mengharuskan Rais untuk membayar. Lalu cerita dilanjutkan dengan berbagai macam kalangan pria hidung belang yang ingin meniduri Titi, mulai dari pejabat asal Jakarta, pemabuk, Ramidi si tukang copet, hingga orang tua bejat yang sudah berumur. Dan Rais yang silih berganti membawa berbagai macam lelaki hidung belang untuk Titi sebagai salah satu bukti untuk menunjukkan cintanya kepada Titi. Meskipun akhirnya tidak ada satupun yang jadi karena berbagai alasan, hingga akhirnya Titi memilih untuk kabur bersama Rais. Cerita ini pun ditutup oleh teriakan sang Ibu germo kepada Titi "Selamat Jalan Anak Kufur". ya, Titi telah Kufur terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya.

Secara tidak langsung, "Selamat Jalan Anak Kufur" mengisahkan kepada kita tentang arti cinta dalam beberapa dimensi yang berbeda. Tentang pengorbanan, pergolakan batin, pertentangan hati, lingkungan, profesi dan lainnya. Namun pada akhirnya hati dan perasaan lah yang memenangkan segala pertempuran itu. Cerita ini juga dengan gamblang mengisahkan tentang pergolakan dan benturan-benturan sosial yang dialami masyarakat kelas bawah, dengan segala "kemesumannya".

Beberapa pesan moral juga diselipkan dengan sangat baik dalam cerita ini, diantaranya adalah kesetaraan gender, sikap, kejujuran, hingga penghormatan terhadap tradisi leluhur. Namun yang tampak paling ditekankan adalah bahwasanya segala stereotype dan segala opini negatif tentang posisi dan profesi pelacur itu tidak semuanya benar. Pelacur adalah manusia juga yang memiliki nalar, logika, perasaan dan pilihan untuk dipilih dan diyakininya. Pelacur bukanlah kriminal, bukanlah penjahat.

Yang sangat menarik adalah penampilan dari Teater Ciliwung yang dengan sangat baik mampu menerjemahkan naskah "Selamat Jalan Anak Kufur" dengan sederhana namun 'mengena' dan sampai ke para penonton tanpa menimbulkan rasa bosan sedikitpun, sajian komedi yang ditampilkan pun sangat lucu dan menawan hingga hampir semua orang yang berada di dalam gedung teater Salihara tertawa terpingkal-pingkal. Luar biasa Teater Ciliwung!!.

Pementasan "Selamat Jalan Anak Kufur" ini adalah bagian dari program Komunitas Salihara di bulan Juni 2011 yaitu Forum Teater realis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar